Archive for June, 2010

Wereng cokelat (Brown planthopper) Nilaparvata lugens (stal) termasuk family Delphacidae, ordo Homoptera, telah diketemukan oleh Stal sejak tahun 1854. Dulu oleh Stal dimasukkan ke dalam genus Delphax, sehingga dengan penamaan yang baru Stalnya dikurung.

Wereng Cokelat (Nilaparvata Lugens Stal)

Phylum            : Arthropoda

Class                : Insecta

Ordo                : Homoptera

Sub Ordo        : Auchenorrhyncha

Family             : Delphacidae

Sub Family      : Fulgoroidea

Wereng coklat termasuk serangga bertipe r-strategi, artinya :

a)Populasi serangga dapat menemukan habitatnya dengan cepat;

b)Berkembang biak dengan cepat dan mampu menggunakan sumber makanan dengan baik, sebelum serangga lain ikut berkompetisi; dan

c)Mempunyai sifat menyebar dengan cepat ke habitat baru, sebelum habitat yang lama tidak berguna lagi.

Wereng coklat berukuran kecil, panjang 0,1-0,4 cm. Serangga wereng coklat dewasa bersayap panjang dapat menyebar sampai beratus kilometer. Wereng coklat bersayap panjang dan wereng punggung putih berkembang ketika makanan tidak tersedia atau terdapat dalam jumlah terbatas. Pada umumnya mempunyai sifat sebagai berikut :

1) Selalu melakukan penghisapan sejenis zat cair dan air dari batang-batang tanaman padi atau sejenisnya yang masih muda atau butir-butir buahnya yang juga masih muda dan lunak;

2) Pada umumnya setiap wereng mempunyai moncong yang kuat, yang berfungsi sebagai alat penghisap ;

3) Gangguan yang dihadapinya selalu dihindari dengan gerakan menyembunyikan dirinya baik kesamping atau ke belakang dari daun dan batang tanaman yang sedang dirusaknya, dan dalam menghadapi hal yang mengejutkannya selalu melakukan gerakan loncat tanpa arah yang menentu, kemana atau ke bagian mana saja, rupanya asal dapat menghindari guna menyelamatkan dirinya.

Nilapervata lugens berwarna cokelat,kesukaan hidupnya pada tempat dengan suasana lembab dan gelap/teduh. Wereng ini gemar sekali merusak tanaman padi karena tanaman padi umumnya berdaun lebat dan selalu hidup ditempat yang berair (memenuhi suasana lembab dan teduh diatas. Dan biasanya pula sambil menunggu adanya tanaman padi, wereng cokelat mampu bertahan pada rumput-rumputan atau tanaman-tanaman lembab lainnya, begitu para petani mengolah sawahnya, segera melakukan inovasi.

Siklus Hidup

Wereng coklat berkembang biak secara seksual. Siklus hidup wereng cokelat semenjak telur hingga umur matinya dapat dijelaskan sebagai berikut :

a.Telur

Masa prapenelurannya 3-4 hari untuk brakiptela (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang) (MOCHIDA, 1977). Telur biasanya diletakan pada jaringan pangkal pelepah daun. Tetapi, kalau populasinya tinggi, telur diletakan di ujung pelepah daun dan tulang daun. Telur diletakan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir. Bentuk telur wereng coklat lonjong agak melengkung berdiameter 0,067-0,133 milimeter dengan panjangnya antara 0.830-1,000 milimeter. Dalam waktu sekitar 9 hari telur telah mulai menetas.Satu wereng betina tidak meletakan telur hanya pada satu rumpun padi, tetapi dari beberapa rumpun dan berpindah-pindah. Dengan demikian pada suatu saat nimfa sudah tersebar pada beberapa rumpun.

b.Larva/nimfa

Telur wereng cokelat menetas menjadi nimfa. Metamorfosanya sederhana atau bertingkat disebut heterometabola. Serangga muda mirip induknya. Makanannyapun sama dengan serangga induknya. Nimfa mengalami lima instar dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan stadium nimfa beragam, tergantung dari bentuk dari bentuk dewasa ysng muncul.

Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa bentuk pertama adalah makroptera (bersayap kerdil) yaitu wereng cokelat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang secara normal. Bentuk kedua adalah brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng cokelat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang yang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimental. wereng cokelat mulai bersayap dalam umur sekitar 13 hari. Umumnya wereng brakiptera bertubuh lebih besar, mempunyai tungkai dan peletak telur lebih panjang (Kisimoto, 1957).

Hasil kopulasi antar jantan brakiptera dengan betina  brakiptera, atau betina makroptera dan hasil kopulasi antar jantan makroptera dengan betina brakiptera, atau betina makroptera pada generasi ke-1 menghasilkan jantan makroptera dan brakiptera dari kedua  jenis kelamin.

Baehaki (1884) melaporkan bahwa tingkat perkembangan wereng cokelat brakiptera dapat dibagi menjadi masa prapeneluran 2-8 hari, masa bertelur 9-20 hari, dan masa pasca peneluran beberapa jam sampai 3 hari, sedangkan pradewasa adalah 19-23 hari. Lee dan park (1977) melaporkan bahwa umur serangga dewasa ialah 20-30 hari, tetapi mungkin pada tanaman yang tahan akan lebih pendek.

Selain dipengaruhi oleh kepadatan populasi munculnya wereng makroptera juga dipengaruhi oleh umur tanaman dan kurangnya makanan. Pemunculan makroptera lebih banyak pada tanaman tua daripada tanaman muda dan pada tanaman setengah rusak (partially hopperburn) dibanding dengan tanaman sehat.

Faktor alelokemik tanaman merupakan faktor yang agak langsung mempengaruhi bentuk sayap. Jaringan tanaman hijau kaya bahan kimia mimik hormon juvenil. Tetapi pada padi yang mengalami penuaan bahan kimia mimik hormon juenilnya berkurang. Oleh karena itu perkembangan wereng cokelat pada tanaman tua atau setengah tua banyak muncul makroptera.

Perubahan bentuk sayap ini penting sekali ditinjau dari tersedianya makanan pokok di lapang. Pada lahan tanaman yang sudah dipanen makanan wereng menjadi berkurang, sehingga wereng menghadapi katastropi. Sebelum terjadi bencana tersebut wereng cokelat merubah posisi menjadi wereng makroptera, lalu bermigrasi mencari tempat baru yang cocok untuk perkembang biakannya.

c.Kemudian akan mulai bertelur kembali setelah mencapai umur sekitar 2 minggu, dan selanjutnya seperti diatas.

Jadi, dalam waktu yang relative singkat wareng cokelat akan berlipat ganda mencapai jumlah yang besar. Umur kematiannya yaitu setelah mencapai sekitar 40-41 hari, tetapi bergantiannya dalam jumlah banyak, sehingga dalam umur maksimumnya wereng cokelat bertelur sampai 3 kali dan tiap kali mencapai ratusan telur.

Artikel ini dibuat sesuai hasil wawancara kami ke lapang, dimana petani disana menanam tomat. Tomat yang ditanam termasuk varietas marani.  Varietas ini merupakan tipe menara yang didatangkan dari Perancis. Produksi yang dihasilkan dari 8000 pohon tomat varietas ini cukup baik, yaitu dalam panennya minimal dapat menghasilkan sebanyak 15 ton dan panen terbanyak dapat menghasilkan tomat sebanyak 18 ton.

Kemudian tomat yang dihasilkan tersebut dijual. Biasanya petani menjual tomat-tomat tersebut kepada makelar. Harga yang ditawarkan pun bervariasi yaitu antara Rp 1800,00/kg sampai Rp 3000,00/kg. Harga-harga ini tidak pasti, sewaktu waktu dapat berubah sesuai dengan banyaknya hasil dan kualitas dari tomat itu sendiri. Biaya perpohon dapat dihitung dengan membagi biaya keseluruhan yaitu Rp. 16.000.000 dibagi dengan jumlah pohon yaitu 8000 dan hasilnya biaya perpohon adalah Rp. 2.000.

Waktu yang dibutuhkan benih tomat di pesemaian yaitu sekitar 20 hari memakai lumpur bambu. Setelah itu kemudian dipindahkan ke areal tanam dengan jarak tanam bermacam-macam. Ada yang jarak tanamnya 40 cm x 140 cm, 20 cm x 40 cm, dan 80 cm x 40 cm. Tanaman tomat memiliki waktu tanam sampai panen sekitar 90 hari.

Terkadang biaya yang diterima petani dari hasil penjualan tomat tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan dari mulai tanam sampai panen. Biaya-biaya tersebut biasanya berupa biaya untuk membeli bibit, membeli pupuk, dan biaya untuk merawat tanaman tomat itu sendiri, misalnya untuk membeli herbisida yang digunakan untuk menanggulangi adanya hama dan penyakit yang menyerang tanaman tomat. Bibit yang ditanam pun harusnya berkualitas.

Terkait dengan hama dan penyakit pada tanaman tomat, petani menjelaskan bahwa ada bermacam-macam hama dan penyakit yang menyerang tanaman tomat. Diantaranya adalah adanya serangan Phytophtora investans yang menyerang bagian daun dari tanaman tomat. Untuk menanggulangi adanya serangan tersebut, petani menggunakan berbagai zat kimia. Untuk penyakit busuk basah, petani menggunakan markojek yang menggunakan sistem kontak. Sedangkan untuk serangan hama ulat, petani menggunakan insektisida dengan jenis delta grown. Dosis yang dipakai adalah sebanyak 200 liter drum. Untuk markojek dibutuhkan 50 gram. Satu liternya sama dengan 2,5 gram.

Dalam masa pemeliharaan tersebut, petani juga harus memperhatikan pertumbuhan dari tanaman tomat. Setiap harinya tanaman tomat dipantau. Kalau tidak akan tumbuh cabang pada tanaman tomat yang dapat menyebabkan tomat tidak besar.

Adanya hama dan penyakit juga semata-mata tidak muncul dari tanaman itu sendiri, melainkan dapat muncul dari tanah. Lahan tanaman dapat terkontaminasi. Lahan yang terkontaminasi biasanya juga diberi dolomit (kapur) saat penanaman. Sedangkan pada tanah jenuh digunakann sistem olah. Banyaknya kapur yang digunakan dalam satu patok atau setara dengan luas 35 cm2 yaitu sebanyak 5 kg.

Keluhan dari pada petani adalah tentang koperasi dan masalah tender. Selama ini hasil panen dikirimkan ke cisurupan dan cikajang yang sebagai sentral tomat dan kentang di jawa barat. Terkadang tanahnya juga dipakai tumpang sari dengan pecai. Pengairan di sana ada dua macam yaitu ketika hujan ga jadi masalah, tapi pada saat  tidak hujan mereka menggunakan rolling. Rata-rata tanah di sana merupakan tanah desa sehingga mereka bayar pajak desa, tapi ada juga tanah milik sendiri.

Caisin adalah salah satu tanaman yang termasuk ke dalam golongan tanaman sayuran. Caisin merupakan nama lain dari tanaman sawi hijau. Caisin dapat digunakan manusia untuk campuran berbagai aneka masakan. Seperti halnya tanaman – tanaman yang lain, caisin juga dapat terserang oleh hama dan penyakit. Salah satu hama yang banyak menyerang tanaman caisin adalah hama kutu anjing (Phyllotreta vittata).

Phyllotreta vittata merupakan hama yang berasal dari filum arthropoda, kelas insect, ordo Coleoptera dan termasuk dalam family Chrysomelidae. Serangga yang termasuk dalam family Chrysomelidae pada fase larva maupun imago umumnya bersifat fitofag, namun banyak dari anggotanya yang termasuk dalam spesies hama serius. Perilaku yang umum dari serangga Chrysomelidae adalah mengumpulkan dedaunan. Kutu anjing (Phyllotreta vittata) umumnya dikenal dengan kumbang anjing atau leaf beetle, dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Kumbang ini berwarna coklat kehitaman dengan sayap bergaris kuning. Panjang kumbang 2 mm. Telur diletakkan berkelompok pada kedalaman l-3 cm di tanah. Panjang larva 3-4 mm. Pupanya berada pada kedalaman tanah 5 cm. Daur hidupnya 3-4 minggu. Daun yang terserang Phyllotreta vittata berlubang-lubang kecil. Larvanya seringkali merusak bagian dasar tanaman dekat dengan permukaan. Tanaman inang Phyllotreta vittata adalah petsai, lobak, dan sawi. Pengendalian Phyllotreta vittata dapat dilakukan dengan pemusnahan tanarnan yang terserang dan penggunaan insektisida bila ditemukan gejala serangan dan saat tanaman masih muda.

Anggota famili Chrysomelidae umumnya menyerang tanaman inang yang berasal dari kelompok Arachnis sp., Grammatophyllum sp., Vanda sp., Phalaenopsis sp., Calanthes sp. dan kadang-kadang menyerang Dendrobium sp. Gejala serangan yang umumnya ditimbulkan oleh Chrysomelidae adalah pada fase larva membuat lubang pada daun, akar, kuntum bunga dan bunga, sedangkan untuk serangga dewasa juga dapat memakan daun.

Serangga Chrysomelidae umumnya berwarna hijau kekuningan. Tubuhnya diselubungi busa yang berwarna hijau tua. Larvanya membuat lubang pada daun, akar, kuntum bunga dan bunganya. Serangga mempunyai tipe criocerin sepanjang punggung dan pronotum yang sempit. Serangga dari famili ini berasosiasi dengan rumput-rumputan dan monokotiledon lain. Larva yang semula berwarna abu-abu, dengan meningkatnya umur, akan berubah menjadi kuning. Tubuh larva senantiasa tertutup oleh kotorannya sendiri. Telur diletakkan terpisah-pisah pada bunga dan petiola. Telur berwarna kuning kehijauan dengan panjang 1,25 mm. Larva yang baru menetas membawa kulit telur di punggungnya. Daur hidup mencapai 30 hari.

Kutu anjing sangat mirip dengan kutu kucing, baik dalam penampilan dan perilaku, dan hanya seperti kutu kucing, kutu anjing juga dapat berkembang biak di kedua kucing dan anjing. Kedua spesies sangat mirip biologis, bahwa untuk tujuan praktis mereka biasanya didefinisikan dan berbicara tentang di bawah pos yang sama. Kutu anjing dan kucing adalah spesies yang paling umum ditemukan kutu di dalam dan sekitar rumah. Sebagian besar waktu, hewan peliharaan seperti kucing dan anjing yang penuh dengan kutu tanpa pemilik manusia mengetahui tentang hal itu.

Kutu serangga betina umumnya panjang 2,5 mm, dengan kutu laki-laki yang sedikit lebih kecil. Sisir kutu anjing terdiri dari 8 pasang duri. Larva kutu anjing adalah dua kali panjang dan dewasa umumnya partikel  pada darah kering, kotoran, dan berbagai zat organik yang dikumpulkan di sudut-sudut bangunan dipenuhi. Para kutu kutu anjing dapat dengan mudah diidentifikasi di perempat tidur kucing dan anjing, dengan adanya garam-dan-merica seperti substansi yang terbentuk dari larva kelabu dan putih telur kutu ini.